Work Text:
Ushijima memang tolol. Tapi di kepala Matsukawa, dia nggak sebodoh ini. Sudah lima belas menit mereka habiskan untuk bersiteru perihal hal yang kekanak-kanakan.
"Ya pasti gua, lah? You're not even gay??"
"You're being judgemental." Ushijima melipat kedua tangan di dadanya. "And irrelevant."
Kepalan Matsukawa menoleh ke kanan dan kiri secara bergantian, mengikuti suara sang pembicara. Di sudut bar ini, tiga pemuda tengah meributkan hal yang itu-itu saja. Sama sekali nggak revolusioner. Nggak masuk akal. Apalagi inovatif.
"You two are a pretty crier so shut up and move on," katanya. Lelah dengan perdebatan panjang antara Iwaizumi dan Ushijima. Secara serentak, keduanya menatap tajam Matsukawa dengan alis mengkerut.
"Hubungan pretty crier sama siapa yang cocok ditidurin apa deh, gue tanya?" Ushijima buka suara. Kali ini nggak ditunjukkan untuk Iwaizumi, melainkan padanya. Sebagai respons, Matsukawa cuma mengedikkan bahu.
"Lo gak pernah sex sampai partner lo nangis? What a fucking virgin," sela Iwaizumi. Dia mengambil segelas alkohol di bar counter dan menenggaknya sambil menggelengkan kepala. Heran.
"I am not a virgin." Ushijima membantah dengan tegas. Kepalanya sakit karena stimulasi berlebih tapi lebih memusingkan lagi perdebatan nggak jelas mereka.
"Well, your ass is." Ketiganya terdiam mendengar penuturan Matsukawa yang asal bunyi. Bahkan sampai musik berganti, nggak ada yang buka suara sampai Ushijima tertawa sarkastik.
"Ha! Dari tadi kita ngomongin siapa yang tahan paling lama di kasur, kenapa malah mocking gue yang gak pernah tidur sama cowok, ya? What? You guys want to fuck me that bad?"
Nggak minat. Iwaizumi memberi gestur ingin muntah. Sehomo apapun dirinya, kalau yang akan dia buat ejakulasi sampai menangis adalah Ushijima Wakatoshi Si Paling Lempeng dari Fakultas Ekonomi Bisnis, lebih baik dia nggak masturbasi selama tiga bulan.
Nggak asik. Ushijima nggak menarik sama sekali. Dan kenapa mereka bisa berdebat tentang siapa yang bisa bertahan paling lama di ranjang saat sedang sex bebas karena salah pergaulan?
"Ushijima you are not that relevant. Get a life," kata Matsukawa. Ia putuskan untuk mengakhiri perdebatan konyol ini dengan sebatang rokok. Bisa gila dia meributkan hal yang itu-itu saja. Memangnya ini sidang paripurna?
"You know what?" Ushijima menyela. Ucapannya yang menggantung menghentikan Iwaizumi dan Matsukawa dari langkah kaki mereka yang kian menjauh. "Kenapa nggak liat aja siapa yang paling cupu di kasur and see who's the virgin one?"
"Ha!" Iwaizumi berseru nggak percaya. Gelas yang hendak dia bawa dia banting di atas meja namun suaranya teredam musik kencang. Tanpa banyak komentar, Matsukawa segera menyalakan korek api dan membakar habis ujung rokoknya. Pada isapan ketiga. Ia tertawa juga.
"Ushijima Wakatoshi you're fucking dead."
"Ngaca."
Namanya juga remaja ibu kota. Diprovokasi dengan alkohol dan kenikmatan duniawi, dua tiga kebodohan terlampaui. Kalau bukan karena sedikit tinggi dan tipisnya ego laki-laki, ketiga mahasiswa berbeda jurusan itu nggak akan ada di kamar lantai atas sebuah bar remang-remang.
Matsukawa menarik nikotin lamat-lamat dari puntung rokoknya. Dia menikmati adu mulut Iwaizumi dan Ushijima di atas kasur. Bilah bibir saling melumat dan tangan nggak tinggal diam untuk saling meremas dan membelai. Ushijima nggak tampak seperti amatiran. Mungkin penisnya sudah masuk banyak lubang senggama tapi Iwaizumi jelas bukan pemula.
Jika ada yang pulang dengan gelar keluar dua menit, itu pasti bukan Iwaizumi Hajime apalagi Matsukawa Issei. Bangga pada diri sendiri memang melekat kuat pada penyakit mental narsistik. Ah, di ekonomi yang begini, siapa yang nggak sakit jiwa? Dikata-katai dalam diskursus X jauh lebih menyenangkan ketimbang dibungkam rezim berkelanjutan.
"No fucking way. You're feeling it in your nipple? Bikin malu aja, anjing!" Iwaizumi meredam tawa remehnya dengan satu isapan kuat pada puting Ushijima yang masih dibalut kemeja. Sebagai balasan, Iwaizumi dapat jambakan keras pada rambutnya.
"Banyak omong," kata Ushijima jengkel. Dia menyisipkan lututnya pada selangkangan Iwaizumi, seolah tengah menyiksanya dengan friksi-friksi laknat khas orang mabuk birahi.
Setiap gesekan pada penisnya terasa menyebalkan, Iwaizumi harus memilih antara mendesah atau marah-marah karena dia sudah kepalang horny. Kalau tahu Ushijima seculas dan setolol ini dalam perihal foreplay, lebih baik dia membuahi Matsukawa Issei lebih dulu meski nggak ada kehamilan yang akan terjadi. Dunia ini memang menyedihkan.
Keduanya lalu larut dalam kenikmatan yang dipaksakan. Seolah lupa kalau sebelumnya berisiteru tegang. Sebagai orang yang nggak virgin, Iwaizumi tentu tahu harus ia kemanakan jemarinya yang panjang. Nggak ada pelumas di sini. Pemuda dengan gengsi selangit nggak akan rewel dengan sedikit rasa sakit. Menurut komik homo-erotika bajakan (maaf, Iwaizumi janji cuma pernah sekali), air liur cukup untuk jadi ajang basah-basahan. Apa, sih rasa sakit untuk seorang lelaki?
Sumpah, ketiganya bukan patriarki.
"Jari lo, anjing!" Ushijima berseru emosi. Dia meremas rambut Iwaizumi makin kencang dan menariknya ke belakang. Begitu leher cokelat itu terhidang di depan wajahnya, ia nggak butuh waktu lama untuk langsung menancapkan giginya dekat nadi. Dia lumat, dia sesap, dia jilat sepenuh hati. Persetan dengan biologi. Ini seks bebas antar prodi.
"Mulut lo yang anjing!" balas Iwaizumi sengit. Jari tetap memaksa masuk ke celana Ushijima yang mulai basah.
"Yaudah lo berdua yang anjing. Sibuk bener ngentot sampai lupa gua lagi nontonin. What a kinky motherfuckers." Matsukawa secara tiba-tiba muncul di belakang Iwaizumi. Tangan besarnya mendekap Iwaizumi seolah hendak mencurinya dari Ushijima yang lapar. Karena sudah jadi member VIP gym dekat kampus, bisep Matsukawa sudah cukup untuk menahan Iwaizumi yang meronta-ronta sampai wajahnya merah.
Si bangsat ini suka curi-curi makanan. Macam tikus berdasi saja.
"Virgin-jima, watch and learn," katanya lagi. Rokok di tangan kiri berpindah ke mulut Ushijima yang bengkak dan mengkilap. Cantik, sialan. Mungkin mereka harus ciuman. Di depannya, Iwaizumi meronta-ronta dari kungkungan Matsukawa yang menatap matanya dengan lapar. Tapi yang paling mengganggunya adalan tonjolan keras di pantatnya. Penis tolol. Disuguhi porno langsung tegang.
Semua orang sinting malam ini.
"Percuma bisa ngentot tapi gak bisa foreplay. Use your fucking brain, yeah? Common sense, okay? Mana prinsip FEB-nya?" Nada bicara Matsukawa memang menyebalkan. Sayangnya, Iwaizumi keburu dibungkam dengan tiga jari tebal Matsukawa yang bau nikotin dan tembakau, tanpa aba-aba merengsak masuk dan mengobrak-abrik isi mulutnya. Keluar masuk seolah tengah mengabsen gigi Iwaizumi, lalu menekan-nekan lidahnya dengan nggak tahu diri.
Sesak napas, Iwaizumi sedikit lemas. Melihat kesempatan (Ushijima memang orang yang oportunis), Ushijima mencondongkan badannya. Seolah ingin balas dendam, dia juga mau lakukan hal yang sama. Sialnya, mulutnya penuh dengan rokok Matsukawa.
Persetan dengan akal, di sini ada mulut lain yang kosong.
"Anjing!"
"Watch and learn you said, shithead," jawabnya masa bodoh. Matsukawa nggak menjawab lagi. Nggak peduli, kalau ada makanan di meja, tentu dia makan. Jemari itu dia jilat dan isap seperti permen. Ini kuliah umum.
"Abis ini gua kontolin kalian sampai teler, anjing!" Iwaizumi berteriak emosi. Mulutnya sesak disetubuhi jari dan penisnya makin licin dipegang-pegang dengan amatir oleh Ushijima yang mabuk alkohol.
Gerakan serampangan adalah yang paling kurang ajar. Ia nggak familiar dengan kocokan amatiran itu. Naik turun dan genggamannya nggak presisi, sulit ditebak. Ia nggak bisa antisipasi. Sialan. Sialan. Dia jauh lebih baik dari ini. Tapi Matsukawa sama sekali nggak membantu. Jemarinya yang tadi dimasukkan ke mulut Iwaizumi sudah melanglangbuana ke tempat asing—sudah membuka jalannya sendiri menuju rektum. Matsukawa memasukkan jarinya ke dalam anal Iwaizumi tanpa masalah, maju mundur sembari menggaruk-garuk lokasi yang belum pernah terjamah.
Brak!
Adegan intens yang nggak senonoh itu seolah terhenti. Ada yang tekan tombol pause di tengah-tengah. Tiba-tiba saja, kaki Iwaizumi menendang dada Ushijima sampai terbaring. Tapi Matsukawa punya prioritasnya sendiri.
Harga rokok mahal, jangan sampai terbuang sia-sia meski ketiganya tengah memperebutkan anal.
"Ngentot tuh kayak gini ya, Ushijima Wakatoshi. You open your ass and I insert my dick-"
"Correct," bisik Matsukawa tepat di telinganya.
"Anjing!"
Ushijima nggak punya waktu untuk kaget karena ada benda asing yang tiba-tiba menerobos lubang analnya. Luar biasa sakit, bangsat. Sex di ingatannya lumayan nikmat, apa-apaan dengan rasa sakit yang luar biasa ini? Dia bukan masokis, sumpah! Tapi kenapa sensasi panas yang perih itu perlahan berubah jadi luar biasa enak?
"Matsukawa Issei, you dickhead!"
"Mmn, God you're tight."
Waktu Iwaizumi memasukkan penisnya ke dalam anal Ushijima sambil bicara sok besar, Matsukawa seolah ikut mengambil momentum. Lubang yang sudah dia cumbu dengan jemari sebelumnya kini ia setubuhi dengan penisnya yang sudah nyeri minta dipeluk kehangatan duniawi. Nggak peduli siapa yang memasuki siapa, yang penting ketiganya bisa ejakulasi malam ini. Persetan juga dengan ucapan cocky Matsukawa barusan.
Pokoknya ini Win win solution. Dosen FEB pasti bangga. Dan jika ini adalah pengadilan, Matsukawa pantas dapat tepuk tangan.
Yang paling kasihan adalah Ushijima. Meski dia rajin gym dan olahraga, ditimpa dua pria dewasa tentu hal yang berat. Napasnya tersengal tapi perutnya kejang. Tiap Iwaizumi menghentakkan penisnya, ada dorongan lebih dari Matsukawa yang buat penis Iwaizumi masuk lebih jauh ke dalam perutnya. Ada sesuatu yang mengganjal—bukan harga dirinya—tapi sesuatu yang menonjol yang terasa seperti tengah digaruk dengan presisi. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, Ushijima sudah sekarat disetubuhi malah dipanas-panasi dengan pemandangan yang nggak senonoh.
"Aahng!" Congratulations! Tulisan asing itu tiba-tiba tersaji di otak Iwaizumi dan Matsukawa secara sinkron waktu Ushijima pada akhirnya mendesah juga. Seolah kalah. Makin lama makin keras, nggak ada lagi batas kabur antara ketiganya sebab mereka saling menghentak dan meraba.
"Yeah, pegang yang bener, hng, jangan kayak orang tolol, ah!" Iwaizumi memberi arahan di tengah-tengah lenguhannya pada Ushijima yang bersusah payah mengocok penisnya. Satu tangan nggak cukup untuk menggenggam penisnya yang besar sembari menggesekkannya ke perut Iwaizumi yang masih dilapisi kaos abu-abu. Ushijima tentu nggak harus kerepotan kalau saja tangan satunya nggak ditarik Matsukawa untuk dijadikan pegangan.
"Why, Hajime? Mau cum, huh? You look, uh, weird." Meski napasnya putus-putus—ditambah karena asap rokok Matsukawa (si bangsat itu langganan caci maki khalayak umum. Anak hukum itu seperti akan mati kalau nggak merokok barang semenit)—Ushijima masih harus mempertahankan egonya.
Dia mati-matian menahan agar nggak orgasme di tempat. Penis Iwaizumi menumbuk tepat di prostat dan tangannya sendiri malah mengadu miliknya dengan perut Iwaizumi. Dan bangsatnya, Matsukawa kelihatan seksi waktu ngeseks sambil merokok. Matanya nampak sayu dan wajahnya menunjukkan ekspresi porno yang layak diperjual-belikan. Kalau ekonomi kolaps, Matsukawa pasti masih bisa makan dengan membuka akun onlyfans.
"Ushijima Wakatoshi, halo, udah teler aja?" Suara Matsukawa menyadarkannya dari pemikiran pornonya. Asap rokok dihembuskan tepat ke arah wajahnya sebelum Matsukawa membawanya pada ciuman binal yang intens.
Sial. Sial. Mungkin Ushijima juga gay. Bisa-bisa dia mendesah karena terlibat adegan threesome dengan dua pria psikopat kelebihan hormon.
"Shut up. Lo bau rokok, freak."
"Yeah, kalau yang bau sperma sih lo, ya."
"Fuck off, goblok! Gua kejepit!" Frustrasi, Iwaizumi menyikut Matsukawa sampai sang empunya meringis dan terjatuh dengan dramatis. Seolah nggak mau kehilangan kesempatan emas (ingat, Ushijima adalah oportunis sejati di era kapitalis), Ushijima segera menarik penis Iwaizumi keluar dan menendangnya dari radar. Dengan cekatan, ia juga menarik kaki Matsukawa hingga pemuda itu lagi-lagi dibolak-balik macam roti panggang.
"Bangsat!" pekik Matsukawa ketika penis Ushijima masuk tanpa permisi. Satu-satunya yang bisa dia syukuri adalah penis Ushijima basah dan lengket karena cairan pre cum. Nggak ada yang tahu kenapa Matsukawa tiba-tiba ada di posisi ini; tengkurap dengan anal ditarik ke atas dan kepala di tekan ke bawah. Si Bangsat Iwaizumi sudah duduk melebarkan kaki dengan angkuh sembari memaksa Matsukawa untun buka mulut.
"Banyak omong, suck," suruhnya. Penis yang tadinya menyetubuhi Ushijima kini masuk ke lubang yang lebih sempit lagi. Lebih basah dan panas. Seolah nggak ada hari esok, tenggorokan Matsukawa dijajah penis Iwaizumi yang bengkak dan panjang tanpa ampun. Pinggul pemuda itu maju mundur, dan agar nggak ada tragedi, dia harus menjambak rambut Matsukawa dan membuat kepalanya diam.
Lagi-lagi karena dia adalah Sang Oportunis Sejati, Ushijima turut menarik kepala Iwaizumi yang sibuk mendesah karena mendapat servis mulut, lalu menciumnya dengan intens. Suara decakan dan bunyi kecipak laknat memenuhi ruangan itu. Ciuman adalah sebuah seni. Di kepalanya, Ushijima sedang bercumbu mesra dengan Iwaizumi yang liurnya ke mana-mana. Tiap lumatan berujung pada desahan, dan tiap desahan berakhir pada remasan di kulit yang jadi kemerahan.
Di tengah-tengah kekacauan itu, rokok Matsukawa hilang dari pandangan. Nggak relevan lagi. Sang empunya sibuk digilir antara anal dan mulut. Badan terantuk-antuk sesuai ritme tubuh masing-masing. Dan dalam hentakan ke sekian, salah satu dari pemuda di sana ejakulasi lebih dulu.
"What the fuck..."
"Can't help. What a good watch. Ada yang punya permen? Anyone?"
Yang barusan orgasme di celana adalah Oikawa Tooru. Entah sejak kapan berdiri di pintu dan menonton porno gratis sampai orgasme tiga kali. Lalu tanpa canggung meminta permen kepada ketiganya yang sudah di ujung tanduk. Persetan dengan harga diri. Mungkin yang akan jadi trending topic di X karena nggak jago di ranjang bukan Matsukawa, Iwaizummi, apalagi Ushijima Wakatoshi yang mau muntah karena pengar.
